Peristiwa Berita » Konflik Sosial di Indonesia, Bagaimana Mengatasinya?
Konflik Sosial di Indonesia, Bagaimana Mengatasinya?
Penulis : - Editor : Jum`at, 28 Desember 2012 07:17:54

DPR mesti membuka pintu lebar bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan saran penyelesaian konflik sosial.

Konflik Sosial di Indonesia, Bagaimana Mengatasinya?
Jurnalparlemen/Andri Nurdriansyah

Husnan Bey Fananie

Jakarta - Upaya penyelesaian konflik sosial dengan cara hukum dan pendekatan represif tidak akan menuntaskan substansi maupun akar masalah. Konflik sosial di berbagai daerah harus diselesaikan dengan pendekatan kemanusian, sosial, dan ekonomi. 

 

Anggota Komisi I DPR RI Husnan Bey Fananie mengatakan, konflik adalah hukum alam yang mewarnai hidup manusia. Karenanya, konflik bisa dideteksi sejak awal. "Jadi, tinggal bagaimana mengelola konflik menjadi konstruktif dan bukan destruktif," kata Husnan dalam diskusi yang diselenggarakan The Jakarta Institute, di Jakarta Pusat, Kamis (27/12).

 

Deteksi awal yang ia maksud dapat dilakukan dengan membuat sistem peringatan dini guna mencegah pecahnya konflik sosial di masyarakat. Bentuknya berupa penyediaan kanal atau saluran bagi aspirasi warga. DPR mesti membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan saran penyelesaian konflik sosial.

 

" Kita harus sama-sama merasa menjadi pemilik aset negeri ini. Jangan merasa jadi orang yang terpinggirkan. Kita tidak ingin negeri ini tercabik-cabik, maka kita harus terus bersatu," ujarnya.

 

Thamrin Amal Tamagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, menilai pemerintah lemah dalam mendeteksi konflik yang terjadi di masyarakat. Ia mencontohkan kasus konflik di Ambon. Para sosiolog Universitas Indonesia sudah melakukan kajian dan menyampaikan peringatan kepada Bappenas. Sayangnya, peringatan itu diabaikan Bappenas karena instansi ini hanya bicara aspek ekonomi.

 

"Ke depan kita harus punya peta soal potensi konflik. Kita harus tahu apakah keadaan suatu daerah itu masih lampu hijau atau sudah lampu kuning atau lampu merah. Perlu sistem peringatan dini atas kemungkinan konflik," tandasnya.

 

Menurut dia, kalangan akademis, peneliti, serta tokoh agama dan pemuka adat perlu dilibatkan dalam pembuatan sistem peringatan. Sistem ini dapat mulai diterapkan di Lampung dan Sulawesi Tengah. Sebab, kata dia, "Kedua daerah itu paling panas. Perlu juga ada prioritas terhadap kota menengah di seluruh Indonesia yang berpenduduk 100 ribu-1 juta jiwa. Masa depan Indonesia akan ditentukan atas apa yang terjadi di kota menengah."

 

Baca "Peristiwa" Lainnya
Selasa, 21 Oktober 2014 08:33:55
Pembagian Komisi di DPR Tak Melulu soal Kompetensi Anggota

Pembagian Komisi di DPR Tak Melulu soal Kompetensi Anggota

  Senayan - Setiap Anggota DPR RI ...
Rabu, 24 September 2014 13:12:11
UU Hak Cipta Baru Jamin Keamanan atas Karya Seniman

UU Hak Cipta Baru Jamin Keamanan atas Karya Seniman

  Senayan - Ketua Umum Persatuan A...
Rabu, 20 Agustus 2014 09:45:54
Apa Saja Persyaratan DPR Bentuk Pansus Kecurangan Pilpres?

Apa Saja Persyaratan DPR Bentuk Pansus Kecurangan Pilpres?

  Senayan - Proses penyelesaian se...
Senin, 27 Januari 2014 08:39:33
Beragam Paket Menuju Senayan

Beragam Paket Menuju Senayan

  JADI caleg tapi tak punya pengal...
1234
Rabu, 15 Oktober 2014 09:28:02
Pengamat: Jokowi-JK Tak Perlu Risau Parlemen Dikuasai KMP

Pengamat: Jokowi-JK Tak Perlu Risau Parlemen Dikuasai KMP

  Jakarta - Menjelang terbentuknya...
Senin, 13 Oktober 2014 11:55:29
Benarkah Dinamika Politik Berdampak Negatif pada Perekonomian Mendatang?

Benarkah Dinamika Politik Berdampak Negatif pada Perekonomian Mendatang?

  Jakarta - Peralihan kekuasaan da...
Selasa, 7 Oktober 2014 10:36:59
PDI-P Terperosok dalam Labirin yang Diciptakan Sendiri

PDI-P Terperosok dalam Labirin yang Diciptakan Sendiri

  Jakarta - Mantan Wakil Ketua MPR...
Selasa, 16 September 2014 06:01:33
Penerimaan Negara Bisa Tambah Rp 11 Triliun dari Lifting Minyak

Penerimaan Negara Bisa Tambah Rp 11 Triliun dari Lifting Minyak

  Senayan – Pelaksana Tugas ...
1234

Meskipun UU Desa menyatakan bahwa pelaksanaan Dana Desa dapat dilakukan secara bertahap, namun dengan alokasi hanya sebesar Rp 9,1 Triliun, atau hanya 1,4 persen dari Dana Transfer Daerah, itu berarti pemerintahan sekarang ini belum mampu menjawab semangat UU Desa

Budiman Sudjatmiko Kritisi RAPBN 2015
Iklan Gratis
TVJurnalParlemen TV CameraBeritaFoto

Foto Bersama Presiden Baru

CursorTerpopuler

Inilah 65 Calon Daerah Otonomi Baru

Senayan – Sidang Paripurna DPR pada Kamis (24/10) menyepakati pembentukan 65 daerah otonomi baru (DOB). Kesepakatan seluruh fraksi itu selanjutnya disampaikan ke ...
Iklan Footer